Jumat, 06 Februari 2009

My Photo's Gallery


Maaf mas saya lagi merenung......


Pa..pa..pa, saya nyandar ya, bolehkan?


Aparat.....bukannya keparat mas.


Lagi bergaya.....


Mas, beli baju donk.... saya disini.


Peace....ya.peace!

PROPOSAL PENGEMBANGAN SISTEM INFORMASI TENAGA KERJA LAPANGAN DI WILAYAH PELAYANAN III PDAM TKR KABUPATEN TANGERANG

I. GAMBARAN UMUM
Di samping sebagai salah satu fungsi pelayanan, sistem informasi data hadir untuk memenuhi tuntutan kebutuhan manajemen. Sistem informasi data yang baik senantiasa dapat mengatasi masalah-masalah yang terjadi serta dapat menghasilkan informasi secara cepat, tepat dan akurat.
Salah satu contoh yang dapat dilakukan oleh sistem informasi adalah dengan sistem absensi yang memadai proses pengambilan informasi kehadiran karyawan menjadi akurat. Proses pencatatan dan pelaporannya menjadi otomatis oleh software khusus. Kesalahan maupun manipulasi catatan dapat dihilangkan dengan sistem absensi dimaksud. Informasi yang akurat merefleksikan kondisi yang sebenarnya menjadi landasan untuk pengambilan keputusan sertaPencatatan absensi tenaga kerja lapangan merupakan salah satu faktor penting dalam pengelolaan sumber daya manusia (SDM / human resources management). Informasi yang mendalam dan terperinci mengenai kehadiran seorang karyawan dapat menentukan prestasi kerja seseorang, gaji / upah, produktivitas, atau kemajuan instansi/lembaga secara umum.
Pengolahan absensi tenaga kerja lapangan meliputi :
1. Input data tenaga kerja lapangan
2. Pembagian area/ blok pekerjaan
3. Pembuatan target dan realisasi pekerjaan harian, mingguan dan bulanan
4. Pengolahan data absen dan upah/ gaji tenaga kerja lapangan
Dari input di atas kemudian diproses dan menghasilkan output sebagai berikut :
1. Laporan Absensi Harian
2. Laporan Realisasi Pekerjaan Harian, Mingguan, dan Bulanan
3. Laporan Upah/ Gaji Tenaga Kerja Harian

II. IDENTIFIKASI MASALAH
Selama ini pengolahan absensi tenaga kerja harian masih dilakukan secara manual dan belum dilakukan secara optimal.
Berdasarkan gambaran umum, permasalahan yang ada adalah sebagai berikut :
1. Keterlambatan pembayaran honor karyawan lapangan
2. Ketidaktepatan siapa yang harus dibayar
3. Ketidaktepatan jumlah yang harus dibayar
4. Tidak adanya laporan harian siapa saja yang bekerja
5. Tidak adanya laporan kerja per area
6. Tidak adanya rencana dan realisasi
7. Bagaimana penggunaan standar lembur per jam

III. ANALISA KELEMAHAN SISTEM LAMA
Analisa terhadap kelemahan sistem yang lama bertujuan untuk menunjukkan apa saja yang tidak optimaldalam sistem tersebut yang dapat diidentifikasi dan dievaluasi melalui beberapa faktor, yaitu pekerjaan, keandalan, teknologi, laporan dan dokumen.
1. Penilaian pekerjaan
a. Susahnya untuk mengetahui siapa-siapa yang bekerja, sehingga ada ketidaktepatan siapa dan jumlah yang harus dibayar.
b. Kesulitan untuk mengetahui progress pekerjaan secara harian, mingguan dan bulanan.
2. Penilaian Keandalan
a. Kemungkinan data upah/gaji ada yang tidak valid sehingga menimbulkan kesalahan nama dan jumlah yang harus dibayarkan kepada tenaga kerja lapangan.
b. Kemungkinan terjadinya kesalahan penghitungan upah/gaji.
3. Penilaian laporan dan dokumen
a. Sulitnya penataan arsip data yang bersifat manual, dan sulitnya mencari data bila sewaktu-waktu diperlukan.
b. Laporan yang disajikan tidak akurat dan tidak tepat waktu.

IV. ANALISA KEBUTUHAN SISTEM
1. PERANGKAT LUNAK ( SOFTWARE )
Perangkat lunak yang diperlukan dalam pembuatan sistem dan pemrosesan data dari sistem yang diusulkan adalah :
a. Microsoft Windows XP sebagai sistem operasi.
b. MS Office untuk pembuatan aplikasi dan laporan- laporan
c. Program-program lain yang mendukung.
2. PERANGKAT KERAS ( HARDWARE )
a. Processor Intel Pentium III ke atas
b. RAM minimal 256 MB
c. HDD 40 Gb.
d. CD Rom
e. Monitor, Keyboard, dan Mouse
f. Printer, UPS, Kabel UTP, Konektor, Switch/Hub.
3. BRAINWARE
Sebagai pelaksana personal dari sistem yang diusulkan adalah :
a. Operator, bertugas mengoperasikan sistem yang telah dibuat, meliputi proses input data, pengeditan, pemeliharaan data dan pembuatan laporan.
b. Teknisi, bertugas untuk memelihara perangkat keras, dan perangkat lunak yang mendukung aplikasi.

V. ANALISA KELAYAKAN TEKNIS
1. Ketersediaan teknologi yang dibutuhkan
Untuk merancang sistem ini diperlukan sarana computer dan perangkat lunak yang sudah ada di pasaran dan secara umum sudah dimiliki oleh perusahaan.
2. Integrasi dengan teknologi yang sudah ada
Karena teknologi yang sudah ada biasanya adalah masih manual, sehingga tidak ada maslah jika diganti dengan sistem baru yang terkomputerisasi.
3. Konversi sistem lama ke sistem baru
Sistem lama yang seluruhnya dilakukan secara manual akan dilakukan dengan sistem computer.
4. Penguasaan teknologi
Karena sistem ini adalah sederhana jadi pegawai di wilayah III dapat mengoperasikannya dan tidak memerlukan keahlian khusus, karena hanya menggunakan MS Office.

VI. DFD ( DATA FLOW DIAGRAM )
DFD LEVEL 0 ( nol )


DFD LEVEL 1


DFD LEVEL 2




Program penggantian pipa korosif yang dilakukan oleh satu grup yang terdiri dari 2 orang, dimana 1 grup tersebut bertanggung jawab terhadap penggantian pipa korosif dalam satu blok/ area yang terdiri dari 2000 SL.
Penggantian SL Korosif ditargetkan 400 sampai dengan 500 SL per bulan, jadi penggantian SL Korosif per Blok sekitar 120 SL.

VII. ERD ( ENTITY RELATIONSHIP DIAGRAM )


VIII. RANCANGAN TABEL


IX. RANCANGAN INTERFACE
a. Isian Daftar Hadir


b. Aplikasi


c. Laporan-Laporan
1. Daftar Absensi Tenaga Kerja Lapangan


2. Laporan Harian di Lapangan


3. Laporan Harian


4. Laporan Mingguan


5. Laporan Bulanan


X. STRATEGI
Dalam pengembangan system ini kami gunakan Strategi Global yaitu mengumpulkan pengendalian di organisasi induk terpusat di bagian keuangan Kantor Pusat. Semua kebutuhan unit kerja kami telah distandar (sesuai atauran, panduan, juklak yang jelas,…).


Implikasinya pada strategi ini sebahagian besar kapasitas sistem informasi berlokasi di organisasi induk dan terdapat sentralisasi proses & database.

XI. Kesimpulan
Sistem absensi tenaga kerja lapangan ini tentunya akan menyelesaikan masalah-masalah klasik pencatatan absensi, yaitu diantaranya buddy punching, kartu yang hilang, pencatatan absensi yang kurang akurat, hingga keamanan informasi. sistem yang akan dibangun tentunya harus sesuai dengan kebutuhan sehingga pemanfaatannya menjadi tepat guna. pengembangan lebih lanjut berikut ujicoba yang teliti yang mencakup semua aspek pemakaian sistem ini perlu dilaksanakan sehingga menjadikan sistem yang handal dan sesuai dengan kebutuhan spesifik kantor.

Rabu, 04 Februari 2009

TUGAS PROPOSAL SIM PEMINJAMAN ALAT JURUSAN ADMINISTRASI NIAGA

BAB I
P E N D A H U L U A N

1.1. LATAR BELAKANG
Peralatan yang digunakan untuk memperlancar kegiatan - kegiatan belajar mengajar merupakan aset bagi suatu perguruan tinggi. Minimnya ketersediaan alat-alat bantu mengajar seperti Slide Projector, Overhead Projector, laptop akan mempengaruhi mutu dan progress (percepatan) aktivitas yang diselenggarakan. Ketersediaan peralatan ini merupakan faktor pendukung utama dalam penyelenggaraan kegiatan di politeknik mengingat karakteristik politeknik yang menerapkan lebih banyak praktik secara langsung dalam kegiatan belajar mengajar. Peralatan tersebut harus dikelola agar dapat memberikan manfaat yang optimal bagi pihak-pihak berkepentingan di lingkungan Politeknik Negeri Bandung termasuk Jurusan Administrasi Niaga. Pihak-pihak berkepentingan yang dimaksud mencakup dosen pengajar dan peserta didik (mahasiswa dan karyasiswa).
Dengan mempertimbangkan segi kuantitas dari peralatan yang tersedia di Jurusan Administrasi Niaga, maka perlu dilakukan optimalisasi sistem peminjaman peralatan. Seiring dengan pesatnya kemajuan teknologi informasi, maka pengelolaan manajemen yang baik tentunya juga harus disertai dengan peningkatan kemampuan individual skill yang baik pula dalam sebuah organisasi.
Jurusan Administrasi Niaga yang memiliki beberapa program studi dengan berbagai aktivitas membutuhkan pelayanan terhadap kebutuhan informasi tentang peminjaman alat untuk menunjang aktivitas-aktivitas jurusan. Program Studi Manajemen Aset merupakan bagian dari Jurusan Administrasi Niaga yang diharapkan dapat melakukan pengelolaan aset secara optimal, termasuk dapat merencanakan Sistem Informasi Manajemen terpadu yang lebih efektif dan efisien. Sistem Informasi Manajemen Peminjaman Alat sebagai media pengolahan informasi akan menciptakan akurasi, kecepatan, dan kelengkapan sebuah sistem yang terintegrasi, sehingga aktivitas dalam organisasi menjadi lebih efisien, terukur, dan fleksibel. Kurang optimalnya pengelolaan peralatan dalam suatu organisasi, dapat menyebabkan terhambatnya keseluruhan aktivitas.
1.2. PERUMUSAN MASALAH
Ada beberapa masalah yang perlu diperhatikan dan dikembangkan dalam perencanaan Sistem Informasi Manajemen Peminjaman Alat, antara lain :
1. Tidak sesuainya jumlah peminjaman terhadap ketersediaan alat.
2. Sistem peminjaman alat yang belum terintegrasi dengan baik.
3. Kurangnya informasi tentang kondisi dan jumlah peralatan sebelum dan sesudah peminjaman alat.
1.3. BATASAN MASALAH
Berdasarkan perumusan masalah dalam Sistem Informasi Manajemen Bagian Peminjaman Alat di Program Studi Manajemen Aset, maka akan dibatasi sebagai berikut:
1. Terkendalanya peminjaman alat bantu untuk kegiatan belajar mengajar dan ekstra kurikuler.
2. Prosedur peminjaman alat yang belum online pada jaringan komputer.
3. Kerusakan dan kehilangan peralatan.
1.4. T U J U A N
Sistem Informasi Manajemen Peminjaman Alat bertujuan sebagai media pengelolaan peminjaman alat secara lebih efisien dan efektif yang diharapkan mampu memperlancar proses belajar mengajar di Jurusan Administrasi Niaga pada umumnya dan secara khususnya di Program Studi Manajemen Aset.
Dengan pembahasan berikutnya, maka secara lebih rinci Sistem Informasi Manajemen Peminjaman Alat ini mempunyai beberapa tujuan antara lain :
1. Dapat menyediakan informasi-informasi yang berkaitan dengan peminjaman alat secara akurat dan aktual.
2. Terlaksananya pengelolaan peminjaman alat dengan prosedur-prosedur yang lebih ramping sehingga dapat memperlancar aktivitas belajar mengajar.
3. Menerapkan prosedur yang baku dan logis untuk penanganan kerusakan dan kehilangan peralatan, baik bagi pihak Bagian Peminjaman Alat maupun pihak peminjam dalam hal ini dosen pengajar.

BAB II
LANDASAN TEORI
Sistem Informasi Manajemen mengacu pada aktivitas yang memusatkan pada struktur basis data yang akan digunakan untuk menyimpan dan mengatur pengguna akhir data (end user). Sistem Informasi Manajemen yang baik dapat memenuhi semua kebutuhan pengguna sehingga strukturnya harus dirancang dengan cermat.
Dalam perancangan Sistem Informasi Manajemen dibutuhkan perancang untuk mengidentifikasi dengan tepat penggunaan sistem informasi diharapkan. Sistem informasi yang terencana dengan baik akan memudahkan pengelolaan data dan memberikan manfaat yang menguntungkan bagi aktivitas-aktivitas yang terintegrasi pada sistem informasi.
Pendekatan sistem merupakan sebuah metodologi yang dapat memperlancar aktivitas organisasi serta pemecahan masalah yang merupakan dampak dari aktivitas-aktivitas tersebut. Kebanyakan metodologi dalam pengembangan sistem memuat prinsip-prinsip dasar sebagai berikut :
1. Menentukan kebutuhan untuk membangun sistem.
2. Menjelaskan tujuan sistem.
3. Menentukan rancangan kebutuhan informasi yang disediakan sistem.
4. Merancang aplikasi dan basis data.
5. Membangun, menguji, dan menerapkan aplikasi dan basis data.
Sebagian besar metodologi mengacu kepada metode tradisional, di mana suatu sistem diibaratkan menjalani siklus yang sama pada siklus makhluk hidup. Metode tradisional ini kemudian dinamakan dengan Metode Siklus Hidup atau System Development Life Cycle ( SDLC ).
Metode Siklus Hidup merupakan metode pengembangan sistem informasi yang mengadopsi siklus pada makhluk hidup dimana setiap tahapan siklus siklus merupakan bagian-bagian yang dilaksanakan secara berurutan dan saling mempengaruhi keberhasilan setiap tahapan. Tahapan-tahapan dalam Metode Siklus Hidup terdiri atas :
1. Tahap Perencanaan, mencakup
a. Pembentukan organisasi pengembangan sistem.
b. Pendefinisian proyek.
c. Membuat studi kelayakan proyek.
d. Membuat proposal proyek.
2. Tahap Analisis, mencakup studi sistem yang ada.
3. Tahap Perancangan, mencakup :
a. Perancangan sistem.
b. Pemrograman.
4. Tahap Implementasi, mencakup instalasi.
5. Tahap Pemakaian, mencakup :
a. Operasi.
b. Pemeliharaan.
Dalam tahap perencanaan dilaksanakan pembentukan struktur tim yang akan mengembangkan sistem informasi. Kemudian dimantapkan kembali pengenalan kepada kondisi aktivitas organisasi yang akan diintegrasikan dalam pengembangan sistem informasi. Selain itu, dipertimbangkan pula segi manfaat pengembangan sistem informasi bagi peningkatan kinerja organisasi sehingga dapat diputuskan untuk menyusun proposal pengembangan sistem.
Pada tahap analisis, dilakukan studi terhadap sistem yang ada dan masih berjalan, serta kekurangan-kekurangan sistem yang menghambat aktivitas organisasi. Berdasarkan kasus-kasus yang sering terjadi pada sistem dan kriteria peningkatan sistem yang diharapkan, maka dilakukan identifikasi terhadap masalah-masalah yang dapat terjadi sebagai dampak dari sistem yang ada, kriteria kinerja yang hendak dicapai, kebutuhan informasi yang akan dikembangkan pada sistem, dan alternatif solusi disertai spesifikasi dan analisa kelayakan dari setiap alternatif yang diusulkan.
Berdasarkan pemilihan solusi terbaik dari alternatif solusi di tahap analisis, pada tahap perancangan dilaksanakan perancangan solusi tersebut bagi pengembangan sistem informasi yang ada disertai spesifikasi rancangan pengembangan sistem yang diharapkan. Setelah disepakati bersama, maka hasil rancangan itu diaplikasikan dalam bahasa pemrograman komputer, agar dapat dioperasikan melalui komputer pada jaringan sistem informasi.
Setelah perancangan sistem informasi yang baru dihasilkan dalam bentuk program komputer, maka sistem informasi tersebut diimplementasikan dengan tahap instalasi dimana terjadi peralihan dari sistem informasi lama ke sistem informasi baru. Dalam menginstalasi sistem informasi yang baru, perlu dijaga agar tidak menimbulkan konflik akibat pergantian sistem informasi ini.
Tahap pemakaian merupakan tahap dimana telah terjadi kemantapan bagi organisasi untuk menjalankan sistem informasi terbaru setelah diinstalasi. Dalam tahap pemakaian ini, operasi sistem informasi terbaru benar-benar diterapkan pada organisasi dan dipantau kemampuannya dalam meningkatkan kinerja organisasi. Bersamaan dengan operasinya, maka dilakukan juga pemeliharaan untuk memaksimalkan fungsi sistem informasi yang baru.


BAB III
PEMECAHAN MASALAH
Dalam pembahasan ini, akan disajikan metode untuk menemukan solusi yang diharapkan akan meningkatkan Sistem Informasi Manajemen Peminjaman Alat di Jurusan Administrasi Niaga Politeknik Negeri Bandung secara umumnya khususnya di Program Studi Manajemen Aset. Adapun metode yang akan dikembangkan adalah metode siklus hidup yang mencakup tahap perencanaan, tahap analisis, tahap perancangan, tahap implementasi, dan tahap pemakaian.
3.1. Tahap Perencanaan
Pengembangan sistem informasi dengan metode siklus hidup diawali dengan tahap perencanaan. Dalam merencanakan suatu sistem informasi, maka dilakukan beberapa langkah berikut secara berurutan dan cermat, agar rencana pengembangan sistem dapat memenuhi kebutuhan informasi yang selama ini belum optimal pelayanannya.
3.1.1. Pembentukan Organisasi Pengembangan Sistem
Penentuan pengembangan sistem dilakukan oleh Komite Eksekutif yang terdiri dari eksekutif puncak organisasi. Kemudian, Komite Eksekutif tersebut memilih personil dari tingkatan eksekutif organisasi, manajer tingkat atas, dan konsultan bila diperlukan untuk membentuk Komite Pengarah Sistem Informasi (Steering Committee) yang bertugas memberikan petunjuk, pengarahan dan kontrol.
Komite Pengarah ini memiliki kewenangan dalam menentukan kebijakan-kebijakan sehingga sistem informasi yang akan dibentuk dapat menjamin tercapainya tujuan organisasi, pengontrolan keuangan yang dibutuhkan dalam pengembangan sistem dan pelaksanaan penyelesaian konflik-konflik dan permasalahan yang terjadi dalam pengelolaan peminjaman alat. Komite Pengarah membentuk tim proyek yang diketuai oleh pemimpin proyek yang secara langsung berhubungan dengan pekerjaan pengembangan sistem secara rinci. Tim proyek ini terdiri atas seluruh bagian yang berperan pada pengembangan sistem, meliputi pemakai, para spesialis informasi dan petugas audit internal jika diperlukan.
3.1.2. Pendefinisian Proyek
Kebutuhan dosen dan mahasiswa terhadap peralatan tidak terlepas dari kebutuhan informasi tentang ketersediaan dan kondisi peralatan itu sendiri. Untuk itu, pada Jurusan Administrasi Niaga telah diterapkan sistem peminjaman alat dengan pengisian data peminjaman pada formulir yang dikelola langsung oleh Bagian Peminjaman Alat.
Dengan berkembangnya kegiatan perkuliahan di Jurusan Administrasi Niaga, maka ditemukan beberapa permasalahan yang perlu disikapi sebagai berikut :
1. Keterbatasan jumlah alat bantu yang dapat dipinjamkan untuk kegiatan belajar mengajar dan ekstra kurikuler.
2. Keterbatasan pelayanan informasi yang hemat waktu dan tenaga.
3. Gangguan dan hilangnya peralatan akibat peminjaman.
Untuk itu organisasi pengembangan sistem perlu mengembangkan Sistem Informasi Manajemen terutama dalam hal pelayanan informasi peminjaman alat yang terintegrasi dengan jaringan informasi komputer. Dengan pengembangan sistem ini diharapkan :
1. Dapat meningkatkan pelayanan informasi-informasi yang berkaitan dengan peminjaman alat secara akurat dan aktual.
2. Dapat meningkatkan pengelolaan peminjaman alat dengan prosedur-prosedur yang lebih ramping sehingga dapat memperlancar aktivitas belajar mengajar.
3. Dapat membantu pengambilan keputusan dalam penanganan kerusakan dan kehilangan peralatan akibat peminjaman alat.
Untuk mengembangkan Sistem Informasi Manajemen Peminjaman Alat, maka organisasi pengembangan sistem akan membuat perancangan metode peminjaman alat yang akan menjadi acuan kerja bagi tim proyek pengembangan sistem. Programmer selaku spesialis informasi akan mengaplikasikan perancangan ke dalam bahasa pemrograman komputer dan menghasilkan software (perangkat lunak) yang dapat diintegrasikan pada Sistem Informasi Manajemen oleh pemakai dan petugas audit internal.
Ide-ide untuk pengembangan sistem ini diperoleh dari hasil kesepakatan bersama antara pihak-pihak yang mengelola peminjaman alat ataupun pihak yang berkepentingan langsung terhadap peralatan. Dari kesepakatan bersama inilah dilaksanakan pengembangan sistem informasi dimana dalam hal ini digunakan metode siklus hidup. Komite Eksekutif, Komite Pengarah Sistem Informasi, serta tim proyek akan bekerja sesuai dengan tugas masing-masing yang dipadukan untuk mencapai tujuan pengembangan sistem dari tahap perencanaan hingga pemakaian.
Untuk isian data yang terdapat dalam form peminjaman alat pada metode sebelumnya tetap direkomendasikan karena masih sesuai dengan kriteria kebutuhan sistem informasi yang akan dikembangkan. Hanya bentuknya akan diaplikasikan dalam software pada pengembangan sistem dan proses entry data dilakukan secara komputerisasi.
3.1.3. Membuat Studi Kelayakan Proyek
Pengembangan sistem ini bertujuan untuk meningkatkan kinerja bagian peminjaman alat di Jurusan Administrasi Niaga Politeknik Negeri Bandung, sehingga meningkatkan efektifitas dan efisiensi dalam berbagai kegiatan perkuliahan yang membutuhkan peminjaman alat. Pengembangan sistem dalam usulan ini meliputi perancangan metode peminjaman alat secara komputerisasi yang terintegrasi pada Sistem Informasi Manajemen.
Kelebihan yang dimiliki oleh metode peminjaman alat secara komputerisasi yang terintegrasi pada Sistem Informasi Manajemen adalah sebagai berikut :
a. Ditinjau dari aspek teknis, metode ini akan mempermudah proses entry data karena dapat di editing segera bila terjadi kesalahan pengisian data.
b. Ditinjau dari aspek operasional, proses penyimpanan data lebih aman dan rapi karena berbentuk file komputer. Software-nya didesain oleh programmer sedemikian rupa sehingga mudah digunakan oleh pemakai/operator komputer (user friendly).
c. Ditinjau dari aspek waktu, pengisian data peminjaman alat dilakukan oleh operator komputer yang terampil. Dengan demikian, tidak memerlukan banyak waktu untuk melakukan entry data peminjam. Karena entry data dalam software mencakup juga seluruh permintaan data data metode yang lama, maka peminjam dan operator tidak akan kesulitan dalam proses pengisian data.
d. Ditinjau dari aspek pengembalian, dalam operasional metode ini hemat dari segi bahan (kertas, alat tulis) dan ruang penyimpanan data karena data yang di-entry tersimpan dalam bentuk file di harddisk komputer.
e. Ditinjau dari aspek legal dan etikal, metode ini akan membantu pertanggung jawaban dalam peminjaman alat karena informasinya tersimpan rapi dan aman serta terhubung online dengan jaringan komputer di Jurusan Administrasi Niaga. Dengan demikian akan meningkatkan tanggung jawab dari Bagian Peminjaman Alat untuk menjaga akurasi kinerjanya yang bisa selalu dimonitoring dari jaringan komputer yang terintegrasi dalam Sistem Informasi Manajemen.
3.1.4. Membuat Proposal
Berdasarkan studi kelayakan proyek, maka untuk pengembangan Sistem Informasi Manajemen Peminjaman Alat dirincikan hal-hal yang perlu diperhatikan dalam proyek ini.
Penjabaran tugas dari struktur organisasi pengembangan sistem akan diuraikan sebagai berikut :
a. Komite Eksekutif bertugas sebagai pengambil kebijakan dalam penyelenggaraan proyek dan membentuk Komite Pengarah Sistem Informasi (Steering Committee).
b. Komite Pengarah Sistem Informasi (Steering Committee) bertugas memberikan petunjuk, pengarahan dan kontrol dalam pelaksanaan proyek.
c. Tim proyek bertugas secara langsung berhubungan dengan pekerjaan pengembangan sistem secara rinci.
Kebutuhan tenaga kerja, khususnya dalam tim proyek adalah :


Agar pengembangan sistem ini dapat segera mencapai target dengan hasil yang optimal, maka disusunlah jadwal pelaksanaan sebagai berikut:
JADWAL PROYEK PENGEMBANGAN SISTEM INFORMASI PEMINJAMAN ALAT

3.2. Tahap Analisis
3.2.1. Studi Sistem Yang Ada
Pada saat ini metode yang digunakan dalam menyediakan informasi peminjaman alat di Jurusan Administrasi Niaga adalah metode pencatatan manual yang bisa meninbulkan hambatan dalam pertanggung jawaban dan penyampaian informasi tentang keberadaan dan kondisi peralatan yang dipinjamkan.
Meskipun pada kenyataannya peminjaman alat dengan metode ini dapat dilakukan dengan tertib dan belum menimbulkan masalah yang berarti, tetapi mengingat semakin padatnya kegiatan dan pemberlakuan Sistem Informasi Manajemen di bagian lain yang berkaitan dengan peralatan, dalam metode ini ditemukan kelemahan pada integrasi terhadap Sistem Informasi Manajemen yang terkait.
Berikut ini dilampirkan Form Peminjaman Alat yang biasa digunakan di Jurusan Administrasi Niaga.


Formulir ini tidak menyediakan kebutuhan informasi mengenai kondisi alat. Padahal informasi mengenai kondisi alat sangat diperlukan sebagai indikator frekuensi pemakaian alat, perilaku pengguna alat dan informasi ini juga berguna untuk pemeliharaan dan pertimbangan pengadaan alat baru. Informasi yang termuat dalam formulir ini juga akan sulit didistrubusikan dengan cepat bila dibutuhkan oleh bagian lain yang berkepentingan terhadap pengelolaan peminjaman alat, karena dilakukan secara manual.
Selain dari itu kondisi dan keberadaan peralatan sebagai penunjang dalam belajar akan lebih baik apabila prosedur peminjaman dan pemakaiannya dikelola dengan Sistem Informasi Manajemen yang terintegrasi dengan baik, sehingga penyampaian informasi tentang ketersediaan dan keberadaan serta kondisi peralatan akan lebih teratur dan terkontrol sehingga kebutuhan informasi satu sama lain akan terpenuhi dengan baik.
Untuk itu, dengan pengembangan sistem ini diharapkan dapat mencapai kriteria kinerja sistem informasi peminjaman alat sebagai berikut :
a. Akurat dan aktual dalam penyajian informasi peminjaman alat.
b. Mudah dan hemat waktu dalam proses entry data peminjaman alat.
c. Aman dan rapi dalam penyimpanan dan penyajian informasi peminjaman alat.
d. Kemungkinan gagal operasional yang sangat minim.
e. Pertanggungjawaban yang teliti dan jelas.
Kebutuhan informasi yang akan dikembangkan pada sistem informasi peminjaman alat adalah :
a. Ketersediaan alat.
b. Kondisi alat sebelum dan sesudah peminjaman.
c. Jadwal dan rencana pemakaian alat.
d. Frekwensi rata-rata pemakaian alat.
Dalam pengembangan sistem ini terdapat beberapa alternatif dilihat dari keberadaan metode peminjaman alat yang lama, yaitu :
a. Tidak melakukan perubahan pada metode lama dan terus dijalankan.
b. Memadukan metode hasil pengembangan sistem dengan metode lama.
c. Mengembangkan sistem yang sungguh-sungguh baru.
Dalam usulan ini, pengembangan sistem yang diharapkan dilakukan dengan memadukan metode hasil pengembangan sistem dengan metode lama. Dengan demikian, maka tidak akan menimbulkan kesulitan dalam penyesuaian terhadap pengembangan sistem dimana kelancaran proses peminjaman alat tetap diutamakan.
3.3. Tahap Perancangan
3.3.1. Perancangan Sistem
DFD Level 0


DFD Level 1

Asumsi Pada Level 1
Dosen selaku peminjam alat mengajukan permohonan peminjaman ke bagian peminjaman alat. Bagian peminjaman alat melakukan entry data peminjaman pada komputer yang terhubung dengan sistem informasi peminjaman alat dan mengecek ketersediaan alat. Bila alat yang ingin dipinjam tidak ada, maka disampaikan ke peminjam. Bila alat tersebut ada, maka dengan mempertimbangkan kondisinya, alat dapat dipinjamkan ke peminjam setelah peminjaman yang terjadi dientry dan datanya disimpan pada proses data storage di bagian peminjaman alat. Setelah selesai masa peminjaman yang ditetapkan, maka dosen mengembalikan alat dan proses pengembalian ini dientry untuk menyelesaikan peminjaman alat.

DFD Level 2-1

Asumsi Pada Level 2 Untuk 1
Pada DFD ini digambarkan secara khusus proses permohonan peminjaman alat. Dosen mengajukan permohonan peminjaman ke bagian peminjaman alat. Permohonan peminjaman alat tersebut dientry oleh petugas di bagian peminjaman alat ke komputer. Untuk mencegah terkendalanya pencarian ketersedian alat, maka data permohonan peminjaman tersebut disave. Data Storage pada proses ini perlu dilakukan sebagai referensi informasi untuk mengadakan alat yang sering dipinjam dan dibutuhkan.

DFD Level 2-2

Asumsi Pada Level 2 Untuk 2
Setelah proses permohonan peminjaman alat dilaksanakan, maka dilanjutkan dengan proses pengecekan ketersediaan alat. Bila alat yang ingin dipinjam tidak ada, maka segera disampaikan kepada peminjam dengan alasan yang didasarkan pada informasi yang diperoleh. Bila alat tersebut ada, maka perlu dicari lagi informasi mengenai kondisi alat. Bila alat dalam kondisi rusak dan hanya tersedia satu-satunya, maka disampaikan informasinya kepada peminjam agar penolakan peminjaman dapat dimaklumi. Hal ini perlu diperhatikan untuk mencegah kerusakan yang lebih parah pada alat. Bila tersedia cadangan alat yang kondisinya baik, maka atas kesepakatan antara peminjam dan bagian peminjaman alat, cadangan itu disetujui untuk dipinjamkan. Bila kondisi alat baik, maka peminjaman dapat langsung disetujui. Proses peminjaman dientry dan disimpan pada data storage di bagian peminjaman alat.

DFD Level 2-3

Asumsi Pada Level 2 Untuk 3
Setelah masa peminjaman alat yang ditentukan selesai, maka dosen selaku peminjam mengembalikan alat. Bagian peminjaman alat menerima dan memeriksa kondisi alat sesudah dan sebelum dipinjamkan, terutama dari segi kelengkapan alat. Data pengembalian alat dientry dan disimpan pada data storage di bagian peminjaman alat sebagai informasi bagi peminjaman alat yang serupa di lain waktu.

ERD (Entity Relationship Diagram)

3.3.2. Spesifikasi Perangkat Keras (Hardware) SIM
Perangkat keras yang dibutuhkan dalam mengembangkan sistem informasi dibagi atas sistem komputer dan sistem jaringan komputer.
Spesifikasi komputer yang direkomendasikan untuk mengoperasikan sistem informasi manajemen peminjaman alat adalah sebagai berikut :
Untuk perangkat sistem jaringan komputer yang digunakan adalah sistem LAN (Local Area Network) untuk menjamin keamanan data dari interfensi pihak-pihak lain yang tidak berkepentingan. Komponen-komponen yang dibutuhkan untuk membangun jaringan LAN pada sistem informasi manajemen peminjaman alat adalah sebagai berikut :

1. File Servers
2. Workstations
3. Network Interface Cards
4. Concentrators/Hubs
5. Repeaters
6. Bridges
7. Routers
Untuk pengadaan perangkat-perangkat diatas dibutuhkan dana secara global sebesar Rp 30.000.000,- (Tiga Puluh Juta Rupiah).
3.4. Tahapan Implementasi
Konsep dan sistem yang telah dibangun dan sudah di aplikasi untuk menjalankan penyampaian informasi tersebut, nantinya akan siap digunakan dan terlebih dahulu akan dilakukan pemasangan perangkat keras dan performance test, dan apabila tidak mengalami kendala teknis dalam penerapannya, selanjutnya akan dilakukan pembekalan dengan pelatihan teknis dalam menjalankan konsep yang telah dibangun tadi kepada staf pada bagian peralatan dan perlengkapan.
3.5. Tahap Pemakaian
3.5.1. Kemudahaan yang diciptakan dari penerapan Sistem Informasi Manajemen Terpadu
a. Dalam Struktur Organisasi
Dengan menggunakan sistem ini, maka sangat mendukung pelaksanaan TUPOKSI dengan cepat dan mudah, sehingga lebih jelas penyampaian informasi dan keberadaan peralatan dan perlengkapan tersebut.
b. Dalam Struktur Operasi Organisasi
1. Memberikan gambaran yang jelas dan nyata tentang keadaan Data Barang.
2. Mempercepat proses penyamapaian informasi dan memudahkan untuk membuat laporan-laporan mengenai setiap jenis barang yang akan, sedang terpakai dan yang masih belum terpakai.
3. Pengarsipan data terjamin dan teratur serta dapat digunakan untuk mendapatkan informasi yang up to date dalam mendukung pengambilan keputusan.
c. Dalam Sumber Daya Organisasi
1. Memudahkan Pimpinan untuk memonitoring kemajuan dan status dari setiap jenis barang, baik secara teknis, non teknis maupun kinerja para pelaksanaannya.
2. Terjadi efektifitas kerja pada bagian peralatan dan perlengkapan.
3. Menyajikan informasi tentang peralatan dan perlengkapan dengan cepat, tepat waktu, relevan, dapat dipercaya dan mudah dimengerti.

BAB IV
P E N U T U P
Dari penulisan proposal yang telah dilakukan maka penulis dapat memberikan kesimpulan dan saran seperti yang dapat dilihat pada sub bab-sub bab berikut :
4.1. Kesimpulan
1. Sistem informasi manajemen terutama mengenai Standar Operasional Prosedur (SOP) pengajuan ATK/Barang di lembaga pendidikan sangat diperlukan untuk kemudahan informasi bagi dosen pengajar dan staf yang ada di Jurusan Administrasi Niaga dalam memudahkan proses belajar mengajar.
2. Secara garis besar kegiatan pembuatan Sistem Informasi Manajemen mengenai Standar Operasional Prosedur (SOP) Pengajuan ATK/Barang dapat membantu dosen didalam melaksanakan tugas dan fungsinya untuk belajar mengajar.
3. Secara umum, bentuk dan macam atk/barang yang dibutuhkan oleh dosen pengajar dilihat berdasarkan hasil inventarisasi aset di Jurusan Administrasi Niaga khususnya kegiatan inventarisasi yang dilakukan oleh Urusan Inventaris.
4.2. Saran
Sistem informasi untuk pengajuan atk/barang yang ada di Jurusan Administrasi Niaga hendaknya dikembangkan melalui pengembangan sistem informasi berbasis komputer jaringan yang mendukung kegiatan sistem informasi tersebut terutama menyangkut Standar Operasional Prosedur (SOP) untuk mempermudah pengaksesan, penyampaian dan up date informasi dari Jurusan Administrasi Niaga ke Dosen pengajar dan staf yang lain yang ada Jurusan Administrasi Niaga.

Sabtu, 31 Januari 2009

LAN

1. Bentuklah tim ( max 3 org/tim), anggaplah anda akan membangun LAN pada instansi anda. Buatlah kebutuhan hardware (spesifikasi workstation/klien, server dan pendukungnya), software yang diperlukan dan informasi dapat anda tambahkan selengkap mungkin. Beri keterangan kenapa spesifikasi tersebut menjadi pilihan.

A. Pendahuluan
Jaringan komputer bukanlah sesuatu yang baru saat ini. Hampir di setiap perusahaan terdapat jaringan komputer untuk memperlancar arus informasi di dalam perusahaan tersebut. Internet yang mulai populer saat ini adalah suatu jaringan komputer raksasa yang merupakan jaringan komputer yang terhubung dan dapat saling berinteraksi. Hal ini dapat terjadi karena adanya perkembangan teknologi jaringan yang sangat pesat, sehingga dalam beberapa tahun saja jumlah pengguna jaringan komputer yang tergabung dalam Internet berlipat ganda.
B. Jaringan komputer
1. Pengertian
Jaringan komputer adalah sebuah kumpulan komputer, printer dan peralatan lainnya yang terhubung. Informasi dan data bergerak melalui kabel-kabel sehingga memungkinkan pengguna jaringan komputer dapat saling bertukar dokumen dan data, mencetak pada printer yang sama dan bersama sama menggunakan hardware/software yang terhubung dengan jaringan. Tiap komputer, printer atau periferal yang terhubung dengan jaringan disebut node. Sebuah jaringan komputer dapat memiliki dua, puluhan, ribuan atau bahkan jutaan node.
Sebuah jaringan biasanya terdiri dari 2 atau lebih komputer yang saling berhubungan diantara satu dengan yang lain, dan saling berbagi sumber daya misalnya CDROM, Printer, pertukaran file, atau memungkinkan untuk saling berkomunikasi secara elektronik. Komputer yang terhubung tersebut, dimungkinkan berhubungan dengan media kabel, saluran telepon, gelombang radio, satelit, atau sinar infra merah.
2. Jenis-Jenis jaringan
Ada 3 macam jenis Jaringan/Network yaitu :
a. Local Area Network (LAN) /Jaringan Area Lokal.
Sebuah LAN, adalah jaringan yang dibatasi oleh area yang relatif kecil, umumnya dibatasi oleh area lingkungan seperti sebuah perkantoran di sebuah gedung, atau sebuah sekolah, dan biasanya tidak jauh dari sekitar 1 km persegi.
Beberapa model konfigurasi LAN, satu komputer biasanya di jadikan sebuah file server. Yang mana digunakan untuk menyimpan perangkat lunak (software) yang mengatur aktifitas jaringan, ataupun sebagai perangkat lunak yang dapat digunakan oleh komputer¬komputer yang terhubung ke dalam network. Komputer-komputer yang terhubung ke dalam jaringan (network) itu biasanya disebut dengan workstation. Biasanya kemampuan workstation lebih di bawah dari file server dan mempunyai aplikasi lain di dalam harddisknya selain aplikasi untuk jaringan. Kebanyakan LAN menggunakan media kabel untuk menghubungkan antara satu komputer dengan komputer lainnya.Hardware (perangkat keras) yang dibutuhkan untuk membangun sebuah jaringan komputer yaitu :
1. Komputer ( File Server dan Workstation )
2. Ethernet Card Network
3. Scanner
4. Router
5. Printer
6. Network Interface Card (NIC)
7. Kabel
8. Concentrators/Hubs
9. Repeaters (Penguat sinyal)
10. Bridges (Jembatan)
Software yang dibutuhkan yaitu :
1.Sistem Operasi Jaringan
2.Network Adapter Driver
3.Protokol Jaringan.
b. Metropolitan Area Network (MAN) / Jaringan area Metropolitan Sebuah MAN, biasanya meliputi area yang lebih besar dari LAN, misalnya antar wilayah dalam satu propinsi. Dalam hal ini jaringan menghubungkan beberapa buah jaringan-jaringan kecil ke dalam lingkungan area yang lebih besar, sebagai contoh yaitu : jaringan Bank dimana beberapa kantor cabang sebuah Bank di dalam sebuah kota besar dihubungkan antara satu dengan lainnya.Misalnya Bank BNI yang ada di seluruh wilayah Ujung Pandang atau Surabaya.
c. Wide Area Network (WAN) / Jaringan area Skala Besar
Wide Area Networks (WAN) adalah jaringan yang lingkupnya biasanya sudah menggunakan sarana Satelit ataupun kabel bawah laut sebagai contoh keseluruhan jaringan BANK BNI yang ada di Indonesia ataupun yang ada di Negara-negara lain.
Menggunakan sarana WAN, Sebuah Bank yang ada di Bandung bisa menghubungi kantor cabangnya yang ada di Hongkong, hanya dalam beberapa menit. Biasanya WAN agak rumit dan sangat kompleks, menggunakan banyak sarana untuk menghubungkan antara LAN dan WAN ke dalam Komunikasi Global seperti Internet. Tapi bagaimanapun juga antara LAN, MAN dan WAN tidak banyak berbeda dalam beberapa hal, hanya lingkup areanya saja yang berbeda satu diantara yang lainnya.
3. Protokol
Protokol adalah aturan-aturan main yang mengatur komunikasi diantara beberapa komputer di dalam sebuah jaringan, aturan itu termasuk di dalamnya petunjuk yang berlaku bagi cara-cara atau metode mengakses sebuah jaringan, topologi fisik, tipe-tipe kabel dan kecepatan transfer data.
Protokol-Protokol yang dikenal adalah sebagai berikut :
1. Ethernet
2. Local Talk
3. Token Ring
4. FDDI
5. ATM

Ethernet
Protocol Ethernet sejauh ini adalah yang paling banyak digunakan, Ethernet menggunakan metode akses yang disebut CSMA/CD (Carrier Sense Multiple Access/Collision Detection). Sistem ini menjelaskan bahwa setiap komputer memperhatikan ke dalam kabel dari network sebelum mengirimkan sesuatu ke dalamnya. Jika dalam jaringan tidak ada aktifitas atau bersih komputer akan mentransmisikan data, jika ada transmisi lain di dalam kabel, komputer akan menunggu dan akan mencoba kembali transmisi jika jaringan telah bersih. kadangkala dua buah komputer melakukan transmisi pada saat yang sama, ketika hal ini terjadi, masing-masing komputer akan mundur dan akan menunggu kesempatan secara acak untuk mentransmisikan data kembali. metode ini dikenal dengan koalisi, dan tidak akan berpengaruh pada kecepatan transmisi dari network.Protokol Ethernet dapat digunakan untuk pada model jaringan Garis lurus , Bintang, atau Pohon . Data dapat ditransmisikan melewati kabel twisted pair, koaksial, ataupun kabel fiber optic pada kecepatan 10 Mbps.


LocalTalk
LocalTalk adalah sebuh protokol network yang di kembangkan oleh Apple Computer, Inc. untuk mesin-mesin komputer Macintosh . Metode yang digunakan oleh LocalTalk adalah CSMA/CA (Carrier Sense Multiple Access with Collision Avoidance). Hampir sama dengan CSMA/CD.. Adapter LocalTalk dan cable twisted pair khusus dapat digunakan untuk menghubungkan beberapa komputer melewati port serial. Sistem Operasi Macintosh memungkinkan koneksi secara jaringan peer-to-peer tanpa membutuhkan tambahan aplikasi khusus Protokol LocalTalk dapat digunakan untuk model jaringan Garis Lurus , Bintang , ataupun model Pohon dengan menggunakan kabel twisted pair . Kekurangan yang paling mencolok yaitu kecepatan transmisinya. Kecepatan transmisinya hanya 230 Kbps.

Token Ring
Protokol Token di kembangkan oleh IBM pada pertengahan tahun 1980. Metode Aksesnya melalui lewatnya sebuah token dalam sebuah lingkaran seperti Cincin . Dalam lingkaran token, komputer-komputer dihubungkan satu dengan yang lainnya seperti sebuah cincin. Sebuah Sinyal token bergerak berputar dalam
sebuah lingkaran (cincin) dalam sebuah jaringan dan bergerak dari sebuah komputer-menuju ke komputer berikutnya, jika pada persinggahan di salah satu komputer ternyata ada data yang ingin ditransmisikan, token akan mengangkutnya ke tempat dimana data itu ingin ditujukan, token bergerak terus untuk saling mengkoneksikan diantara masing-masing komputer.


Protokol Token Ring membutuhkan model jaringan Bintang dengan menggunak an kabel twisted pair atau kabel fiber optic . Dan dapat melakukan kecepatan transmisi 4 Mbps atau 16 Mbps. Sejalan dengan perkembangan Ethernet, penggunaan Token Ring makin berkurang sampai sekarang.

FDDI
Fiber Distributed Data Interface (FDDI) adalah sebuah Protokol jaringan yang menghubungkan antara dua atau lebih jaringan bahkan pada jarak yang jauh . Metode aksesnyayang digunakan oleh FDDI adalah model token . FDDI menggunakan dua buah topologi ring secara fisik. Proses transmisi baiasanya menggunakan satu buah ring, namun jika ada masalah ditemukan akan secara otomatis menggunakan ring yang kedua.

ATM
ATM adalah singkatan dari Asynchronous Transfer Mode (ATM) yaitu sebuah protokol jaringan yang mentransmisikan pada kecepatan 155 Mbps atau lebih . ATM mentarnsmisikan data kedalam satu paket dimana pada protokol yang lain mentransfer pada besar-kecilnya paket. ATM mendukung variasi media seperti video, CD-audio, dan gambar. ATM bekerja pada model topologi Bintang , dengan menggunakan Kabel fiber optic ataupun kabel twisted pair . ATM pada umumnya digunakan untuk menghubungkan dua atau lebih LAN . dia juga banyak dipakai oleh Internet Service Providers (ISP) untuk meningkatkan kecepatan akses Internet untuk klien mereka.
Kesimpulan untuk Protokol :

4. Perangkat keras yang diperlukan
Perangkat keras yang dibutuhkan untuk membangun sebuah jaringan komputer yaitu : Komputer, Card Network, Hub, dan segala sesuatu yang berhubungan dengan koneksi jaringan seperti: Printer, CDROM, Scanner, Bridges, Router dan lainnya yang dibutuhkan untuk process transformasi data didalam jaringan.

1. File Servers
2. Workstations
3. Network Interface Cards
4. Concentrators/Hubs
5. Repeaters
6. Bridges
7. Routers
File Servers
Sebuah file server merupakan jantungnya kebayakan Jaringan, merupakan komputer yang sangat cepat, mempunyai memori yang besar, harddisk yang memiliki kapasitas besar, dengan kartu jaringan yang cepat. Sistem operasi jaringan tersimpan disini, juga termasuk didalamnya beberapa aplikasi dan data yang dibutuhkan untuk jaringan.
Sebuah file server bertugas mengontrol komunikasi dan informasi diantara node/komponen dalam suatu jaringan. Sebagai contoh mengelola pengiriman file database atau pengolah kata dari workstation atau salah satu node, ke node yang lain, atau menerima email pada saat yang bersamaan dengan tugas yang lain... .terlihat bahwa tugas file server sangat kompleks, dia juga harus menyimpan informasi dan membaginya secara cepat. Sehingga minimal sebuah file server mempunyai beberpa karakter seperti tersebut di bawah ini :
� Processor minimal 166 megahertz atau processor yang lebih cepat lagi (Pentium Pro, Pentium II, PowerPC).
� Sebuah Harddisk yang cepat dan berkapasitas besar atau kurang lebih 10 GB
� Sebuah RAID (Redundant Array of Inexpensive Disks).
� Sebuah tape untuk back up data (contohnya . DAT, JAZ, Zip, atau CD¬RW )
� Mempunyai banyak port network
� Kartu jaringan yang cepat dan Reliabilitas
~ Kurang lebih 32 MB memori

Workstations
Keseluruhan komputer yang terhubung ke file server dalam jaringan disebut sebagai workstation. Sebuah workstation minimal mempunyai ; Kartu jaringan, Aplikasi jaringan (sofware jaringan), kabel untuk menghubungkan ke jaringan, biasanya sebuah workstation tidak begitu membutuhkan Floppy karena data yang ingin di simpan bisa dan dapat diletakkan di file server. Hampir semua jenis komputer dapat digunakan sebagai komputer workstation.

Network Interface Cards (NIC) atau Kartu Jaringan

Kartu Jaringan (NIC) merupakan perangkat yang menyediakan media untuk menghubungkan antara komputer, kebanyakan kartu jaringan adalah kartu inernal, yaitu kartu jaringan yang di pasang pada slot ekspansi di dalam komputer. Beberapa komputer seperti komputer MAC, menggunakan sebuah kotak khusus yang ditancapkan ke port serial atau SCSI port komputernya. Pada komputer notebook ada slot untuk kartu jaringan yang biasa disebut PCMCIA slot.
Kartu jaringan yang banyak terpakai saat ini adalah : kartu jaringan Ethernet, LocalTalk konektor, dan kartu jaringan Token Ring. Yang saat ini populer digunakan adalah Ethernet, lalu diikuti oleh Token Ring, dan LocalTalk,

Ethernet Card / Kartu Jaringan Ethernet

Kartu jaringan Ethernet biasanya dibeli terpisah dengan komputer, kecuali seperti komputer Macintosh yang sudah mengikutkan kartu jaringan ethernet didalamnya. kartu Jaringan ethernet umumnya telah menyediakan port koneksi untuk kabel Koaksial ataupun kabel twisted pair, jika didesain untuk kabel koaksial konenektorya adalah BNC, dan apabila didesain untuk kabel twisted pair maka akan punya konektor RJ-45. Beberapa kartu jaringan ethernet kadang juga punya konektor AUI. Semua itu di koneksikan dengan koaksial, twisted pair,ataupun dengan kabel fiber optik.


LocalTalk Connectors/Konektor LocalTalk
LocalTalk adalah kartu jaringan buat komputer macintosh, ini menggunakan sebuah kotak adapter khusus dan kabel yang terpasang ke Port untuk printer. Kekurangan dari LocalTalk dibandingkan Ethernet adalah kecepatan laju transfer datanya, Ethernet bi Jaringan komputer bukanlah sesuatu yang baru saat ini. Hampir di setiap perusahaan terdapat jaringan komputer untuk memperlancar arus informasi di dalam perudahaan tersebut. Internet yang mulai populer saat ini adalah suatu jaringan komputer raksasa yang merupakan jaringan jaringan komputer yang terhubungan dan dapat saling berinteraksi. Hal ini dapat terjadi karena adanya perkembangan teknologi jaringan yang sangat pesat, sehingga dalam beberapa tahun saja jumlah pengguna jaringan komputer yang tergabung dalam Internet berlipat ganda.asanya dapat sampai 10 Mbps, sedangkan LocalTalk hanya dapat beroperasi pada kecepatan 230 Kbps atau setara dengan 0.23 Mps

Token Ring Cards
Kartu jaringan Token Ring terlihat hampir sama dengan Kartu jaringan Ethernet. Satu perbedaannya adalah tipe konektor di belakang KArtu jaringannya, Token Ring umumnya mempunyai tipe konektor 9 Pin DIN yang menyambung Kartu jaringan ke Kabel Network.

Hub/Konsentrator

Sebuah Konsentrator/Hub adalah sebuah perangkat yang menyatukan kabel-kabel network dari tiap-tiap workstation, server atau perangkat lain. Dalam topologi Bintang, kabel twisted pair datang dari sebuah workstation masuk kedalam hub. Hub mempunyai banyak slot concentrator yang mana dapat dipasang menurut nomor port dari card yang dituju.
Ciri-ciri yang dimiliki Konsentrator adalah :
� Biasanya terdiri dari 8, 12, atau 24 port RJ-45
� Digunakan pada topologi Bintang/Star
� Biasanya di jual dengan aplikasi khusus yaitu aplikasi yang mengatur manjemen port tersebut.
� Biasanya disebut hub
� Biasanya di pasang pada rak khusus, yang didalamnya ada Bridges, router

Repeaters

Contoh yang paling mudah adalah pada sebuah LAN menggunakan topologi Bintang dengan menggunakan kabel unshielded twisted pair. Dimana diketahui panjang maksimal untuk sebuah kabel unshileded twisted pair adalah 100 meter, maka untuk menguatkan sinyal dari kabel tersebut dipasanglah sebuah repeater pada jaringan tersebut.

Bridges / Jembatan
Adalah sebuah perangkat yang membagi satu buah jaringan kedalam dua buah jaringan, ini digunakan untuk mendapatkan jaringan yang efisien, dimana kadang pertumbuhan network sangat cepat makanya di perlukan jembatan untuk itu. Kebanyakan Bridges dapat mengetahui masing-masing alamat dari tiap-tiap segmen komputer pada jaringan sebelahnya dan juga pada jaringan yang lain di sebelahnya pula. Diibaratkan bahwa Bridges ini seperti polisi lalu lintas yang mengatur di persimpangan jalan pada saat jam-jam sibuk. Dia mengatur agar informasi di antara kedua sisi network tetap jalan dengan baik dan teratur. Bridges juga dapat di gunakan untuk mengkoneksi diantara network yang menggunakan tipe kabel yang berbeda ataupun topologi yang berbeda pula.

Routers
Sebuah Router mengartikan informaari dari satu jaringan ke jaringan yang lain, dia hampir sama dengan Bridge namun agak pintar sedikit, router akan mencari jalur yang terbaik untuk mengirimkan sebuah pesan yang berdasakan atas alamat tujuan dan alamat asal.
Sementara Bridges dapat mengetahui alamat masing-masing komputer di masing-masing sisi jaringan, router mengetahui alamat komputerr, bridges dan router lainnya. router dapat mengetahui keseluruhan jaringan melihat sisi mana yang paling sibuk dan dia bisa menarik data dari sisi yang sibuk tersebut sampai sisi tersebut bersih.
Jika sebuah perusahaan mempunyai LAN dan menginginkan terkoneksi ke Internet, mereka harus membeli router. Ini berarti sebuah router dapat menterjemahkan informasi diantara LAN anda dan Internet. ini juga berarti mencarikan alternatif jalur yang terbaik untuk mengirimkan data melewati internet.
Ini berarti Router itu :
� Mengatur jalur sinyal secara effisien
� Mengatur Pesan diantara dua buah protocol
� Mengatur Pesan diantara topologi jaringan linear Bus dan Bintang(star)
� Mengatur Pesan diantara melewati Kabel Fiber optic, kabel koaaksialm atau kabel twisted pair
5. Topologi/Bentuk Jaringan
Topologi suatu jaringan didasarkan pada cara penghubung sejumlah node atau sentral dalam membentuk suatu sistem jaringan. Topologi jaringan yang umum dipakai adalah : Mess, Bintang (Star), Bus, Tree, dan Cincin (Ring).

a. Topologi Jaringan Mesh
Topologi jaringan ini menerapkan hubungan antar sentral secara penuh. Jumlah saluran harus disediakan untuk membentuk jaringan Mesh adalah jumlah sentral dikurangi 1 (n-1, n = jumlah sentral). Tingkat kerumitan jaringan sebanding dengan meningkatnya jumlah sentral yang terpasang. Dengan demikian disamping kurang ekonomis juga relatif mahal dalam pengoperasiannya.
b. Topologi Jaringan Bintang (Star)
Dalam topologi jaringan bintang, salah satu sentral dibuat sebagai sentral pusat. Bila dibandingkan dengan sistem mesh, sistem ini mempunyai tingkat kerumitan jaringan yang lebih sederhana sehingga sistem menjadi lebih ekonomis, tetapi beban yang dipikul sentral pusat cukup berat. Dengan demikian kemungkinan tingkat kerusakan atau gangguan dari sentral ini lebih besar.
c. Topologi Jaringan Bus
Pada topologi ini semua sentral dihubungkan secara langsung pada medium transmisi dengan konfigurasi yang disebut Bus. Transmisi sinyal dari suatu sentral tidak dialirkan secara bersamaan dalam dua arah. Hal ini berbeda sekali dengan yang terjadi pada topologi jaringan mesh atau bintang, yang pada kedua sistem tersebut dapat dilakukan komunikasi atau interkoneksi antar sentral secara bersamaan.
topologi jaringan bus tidak umum digunakan untuk interkoneksi antar sentral, tetapi biasanya digunakan pada sistem jaringan komputer.
d. Topologi Jaringan Pohon (Tree)
Topologi jaringan ini disebut juga sebagai topologi jaringan bertingkat. Topologi ini biasanya digunakan untuk interkoneksi antar sentral dengan hirarki yang berbeda. Untuk hirarki yang lebih rendah digambarkan pada lokasi yang rendah dan semakin keatas mempunyai hirarki semakin tinggi. Topologi jaringan jenis ini cocok digunakan pada sistem jaringan komputer .
e. Topologi Jaringan Cincin (Ring)
Untuk membentuk jaringan cincin, setiap sentral harus dihubungkan seri satu dengan yang lain dan hubungan ini akan membentuk loop tertutup. Dalam sistem ini setiap sentral harus dirancang agar dapat berinteraksi dengan sentral yang berdekatan maupun berjauhan. Dengan demikian kemampuan melakukan switching ke berbagai arah sentral.Keuntungan dari topologi jaringan ini antara lain : tingkat kerumitan jaringan rendah (sederhana), juga bila ada gangguan atau kerusakan pada suatu sentral maka aliran trafik dapat dilewatkan pada arah lain dalam sistem.
Yang paling banyak digunakan dalam jaringan komputer adalah jaringan bertipe bus dan pohon (tree), hal ini karena alasan kerumitan, kemudahan instalasi dan pemeliharaan serta harga yang harus dibayar. Tapi hanya jaringan bertipe pohon (tree) saja yang diakui kehandalannya karena putusnya salah satu kabel pada client, tidak akan mempengaruhi hubungan client yang lain.

Jumat, 30 Januari 2009

PROPOSAL SIM PENGAJUAN ATK/BARANG



BAB I
PENDAHULUAN


1.1. Latar Belakang Masalah

Perkembangan Teknologi Informasi memberikan imbas yang sangat besar terhadap berbagai aspek kehidupan. Kemudahan-kemudahan yang ditawarkan menjadikan persaingan diantara aspek kehidupan menjadi kompetitif. Penerapan teknologi informasi dalam pengolahan data menjadi sebuah kebutuhan mendasar, tidak berlebihan jika dikatakan komputer merupakan kebutuhan primer untuk mendukung sistem pengolahan data dalam suatu instansi/perguruan tinggi/perusahaan, Data yang diolah secara benar akan menjadi salah satu sumber informasi untuk menentukan langkah kerja yang lebih baik.
Sebagai sumber data yang ada yaitu untuk keperluan analisis data pada suatu pengajuan atk/barang di Jurusan Administrasi Niaga Politeknik Negeri Bandung merupakan konsep dalam mengorganisasi data untuk keperluan dosen pada sistem pengajaran yang nantinya untuk kelancaran aktivitas pendidikan di Jurusan Administrasi Niaga. Hasil pengumpulan dan analisis data ini diimplementasikan dalam bentuk program aplikasi berupa sistem informasi manajemen pengajuan atk/barang, sehingga penyediaan informasi bagi para pengambil keputusan terutama dosen pengajar dapat lebih efektif dan efisien dan juga untuk mendukung suatu peningkatan dalam program sistem pengajaran yang lebih baik pada Politeknik Negeri Bandung khususnya Jurusan Administrasi Niaga.

1.2. Identifikasi Masalah

Dari latar belakang tersebut diatas maka diambil suatu keputusan yang baik didalam memperoleh dan mengolah informasi walaupun hasil inputan dari sistem yang ada telah lengkap, tapi menampilkan data yang banyak untuk mendukung suatu keputusan membutuhkan waktu yang lama dengan cara yang tidak efisien dan tidak semua pengguna/user mampu untuk melaksanakannya, salah satunya yang terjadi pada Jurusan Administrasi Niaga. Disini penerapan dalam hal untuk pengajuan atk/barang, ternyata masih ada proses-proses yang menghambat untuk pelayanan pada dosen administrasi niaga dan juga staf yang lain. Maka baiknya dari Jurusan Administrasi Niaga membuat suatu sistem dalam hal ini sistem informasi pengajuan atk/barang untuk dosen pengajar.

1.3. Batasan Masalah
Masalah yang akan dibahas adalah:
1. Melakukan tahap perancangan DFD yang merupakan analisa strategi sistem pengolahan data di Jurusan Administrasi Niaga.
2. Melakukan tahap perancangan ERD Sistem Informasi Pengajuan ATK/Barang yang berfungsi Memvisualisasikan model data hasil analisa kedalam bentuk tabel.
3. Melakukan tahap perancangan tabel yang fungsinya untuk menampilkan data pendukung suatu keputusan.
4. Membuat Standar Operating Prosedur (SOP) yang bersifat merancang program aplikasi Data sebagai alternatif dalam pemecahan masalah untuk mendapatkan informasi yang benar.

1.4. Tujuan
Tujuan yang bisa diambil dari pembuatan suatu sistem informasi khususnya pengajuan atk/barang adalah
a. Terciptanya kelancaran suatu pengajaran bagi dosen pengajar dan memberikan informasi yang jelas tentang ada atau tidaknya atk/barang di jurusan administrasi niaga.
b. Kemudahan bagi Jurusan Administrasi Niaga dalam prosedur pengajuan permintaan atk/barang.
c. Memberikan kemudahan dan kelancaran bagi user untuk mengorganisir sumber data dengan baik sehingga untuk melakukan proses pengolahan data laporan tidak memerlukan waktu yang lama.
d. Untuk meningkatkan keamanan data tanpa merubah sistem yang ada terutama dalam pengajuan atk/barang bagi doesen pengajar tanpa mengganggu jalannya operasional rutin di Jurusan Administrasi Niaga.


BAB II
TINJAUAN PUSTAKA


2.1. Pengertian Sistem Informasi

Teknologi Informasi sekarang ini sangat dibutuhkan dalam banyak bidang, contohnya dalam sebuah perusahaan, Teknologi informasi dibutuhkan dalam mengolah, mengumpulkan dan menganalisa data, sehingga teknologi informasi sangat berperan penting dalam menganalisa hasil dan menentukan rencana kerja suatu perusahan.
Sistem informasi adalah sekumpulan fungsi yang bekerja secara bersama-sama dalam mengelola, mengumpulkan, menyimpan, memproses serta mendistribusikan informasi. Dalam dunia kerja mengolah sistem informasi harus dibuat semudah mungkin, sehingga user dapat menggunakan hasil dari sistem informasi secara mudah. Untuk itu, sistem informasi haruslah efisien, transparan dan terintegarsi. Untuk megolah suatu sistem informasi dibutuhkan salah satu komponen yaitu sistem informasi manajemen yang berbasis komputer yang dinamakan sistem basis data (database). Sistem basis data mempunyai peran penting sebagai tempat pusat penyimpanan data yang mendukung kegiatan operasional (Online Transactional Processing / OLTP). Sebuah sistem OLTP yang umum memiliki karakteristik seperti jumlah user yang sangat banyak yang secara serentak mengolah dan menambah data. Dalam hal ini, apabila banyak user yang melakukan pengolahan dan penambahan data akan membebani program, saat database berkembang semakin banyak dan kompleks, waktu respon akan semakin berkurang disebabkan bertumpuknya pemakaian sumber daya yang tersedia, sehingga untuk membuat suatu keputusan sangatlah susah dan membutuhkan waktu yang lama dan untuk membuat query satu persatu pada sumber data tidak praktis dan efisien, apalagi sumber data yang ada menyimpan current (arus data), sedangkan data yang dibutuhkan oleh para pembuat keputusan adalah data-data historis. Sebagai contoh data histori dibutuhkan pada pembuatan informasi mengenai pengajuan atk/barang.

2.2. Manfaat Sistem Informasi

Manfaat Sistem Informasi disini sangat banyak yaitu
a. Memudahkan pengaksesan data yang digunakan oleh banyak orang dan mengurangi redudansi dan inkonsistenansi data
b. Meningkatkan keamanan data tanpa merubah sistem yang ada dan jika terjadi perubahan dalam sistem akan memerlukan waktu yang lama dan menggangu jalannya proses opersional rutin maka perlu pengisolasikan data untuk di standarisasikan.
c. Menjaga integritas data yang merupakan konsep dalam mengorganisasi Data yang bersifat operasional berubah menjadi data yang bersifat informasional
d. Menjaga indenpendensi data
e. Penyediaan informasi bagi para pengambil keputusan dapat lebih efektif dan efisien

2.3. Diagram Arus Data (DFD)
Diagram arus data sangat berguna untuk berkomunikasi pada model grafik. Diagram arus data(data follow diagram/DFD) adalah suatu gambar grafis dari suatu system yang menggunakan sejumlah symbol-simbol untuk menggambarkan bagaimana data mengalir melalui suatu proses yang saling berkaitan. Penekanan pada DFD ada pada proses, bukan pada data.
• DFD merupakan cara yang umum untuk mendokumentasikan proses, dimana output pada suatu proses, akan menjadi input pada proses berikutnya. Penggunaan DFD biasanya dikombinasi dengan teks lainnya.
• Diperlukan untuk menganalisis pergerakan data atau informasi dari suatu bagian ke bagian lain dalam satu organisasi proses atau transformasi yang dialami oleh sebuah data atau informasi dan bagaimana hasil transformasi tersebut. Pembuatan DFD menekankan pada logika dan struktur yang mendasari terbentuknya suatu organisasi atau sistem. Terdapat empat buah simbol pokok dalam sebuah DFD.
• DFD hanya terdiri dari 4 simbol utama, simbol tersebut digunakan untuk elemen lingkungan yang berhubungan dengan system, untuk proses, arus data, dan penyimpanan data.


Langkah-langkah pembuatan DFD sebagai berikut :
• Buat sebuah daftar (list) dari aktivitas unit yang sedang diamati. Biasanya dapat dilihat pada job description masing-masing bagian dalam organisasi. Amati juga aliran pekerjaan (work flow) yang dilakukan dalam organisasi tersebut. Gunakan daftar aktifitas dan aliran pekerjaan tersebut dan pilah-pilah menjadi :
o Entity
o Data / informasi
o Proses yang dilakukan
o Data store : mana yang bisa dianggap sebagai tempat penyimpanan data (lemari arsip, file, tabel)
• Buat sebuah context diagram yang menggambarkan hubungan antar entity dan data / informasi, dari dan ke sistem yang diamati. Jangan menggambarkan proses dan data store terlalu rinci terlebih dahulu.
• Buat diagram 0 (level 0), yang memperlihatkan proses / transformasi. Tetap dijaga agar tidak terlalu rinci. Mulai memperlihatkan data store pada level ini.
• Buat diagram anak (child diagram) atau diagram level 1 untuk setiap proses yang ada pada diagram level 0.
• Periksa kalau ada kesalahan dan pastikan tindakan pemberian label pada tiap proses dan data flow memiliki kegunaan.

Level DFD:
Level 0 (diagram konteks) mendokumentasikan system pada tingkat tertinggi. Diagram konteks mudah digambar saat anda memiliki ide, terdiri dari satu simbol proses yang menggambarkan seluruh sistem. Diagram konteks menunjukkan data mengalir ke dan dari terminator.

2.4. Entity Relationship Diagram

Entity Relationship Diagram (ERD), merupakan model konseptual yang menggambarkan struktur data dan hubungan antar entitas sebagai pembentuk Sistem.
ERD menggunakan tiga macam symbol untuk menggambarkan struktur dan hubungan antar entitas, diantaranya yaitu:
1. Entitas
Entitas berupa individu yang mewakili sesuatu nyata dan dapat dibedakan dari sesuatu yang lain.
Entitas ada dua:
a) Entitas Kuat (Strong Entity)
Adalah entitas yang kemunculannya tidak tergantung dari entitas lain (dapat berdiri sendiri), biasanya memiliki atribut yang berfungsi sebagai key.

b) Entitas Lemah (Weakly Entity)
Adalah entitas-entitas yang kemunculannya tergantung pada eksistensinya dalam sebuah relasi terhadap entitas lain (strong entity) dan tidak memiliki atribut yang berfungsi sebagai key.
2. Atribut
Atribut adalah karakteristik (sifat-sifat khas) yang melekat pada sebuah entitas. Atribut ada dua macam yaitu atribut yang berfungsi sebagai key, berfungsi sebagai ciri khas (unik) suatu entitas yang dapat membedakan dengan entitas dalam Sistem. Kardinalitas relasi menunjukkan jumlah maksimum entitas dapat berelasi dengan entitas yang lain. Kardinalitas yang terjadi diantara dua himpunan entitas:
a) Satu Kesatu (One To One)
Setiap entitas pada suatu himpunan entitas berhubungan paling banyak satu entitas pada himpunan entitas yang lain.
b) Satu Ke Banyak (One To Many)
Setiap entitas berhubungan dengan banyak pada himpunan entitas yang lain.
c) Banyak Ke Banyak (Many To Many)
Setiap entitas pada suatu himpunan entitas berhubungan dengan entitas pada himpunan entitas yang lain.

BAB III
PEMBAHASAN


3.1. Tahap Perancangan DFD

DFD (Data Flow Diagram) dibangun berdasarkan proses yang akan dibuat yaitu sistem pengajuan atk/barang pada jurusan administrasi niaga.

3.1.1. DFD Level 0


3.1.2. DFD Level 1


3.1.3. DFD Level 2 Untuk 1


3.1.4. DFD Level 2 Untuk 2


3.1.5. DFD Level 2 Untuk 3


3.2. Perancangan ERD Sistem Informasi Pengajuan ATK/Barang
Perancangan Sistem pengajuan atk/barang ini terdiri dari lima buah tabel yang memiliki relasi satu dengan lainya. Seluruh relasi didasarkan pada nomor urut dari data (primary key menggunakan kolom Nomor yang berupa bilangan). Penggunaan nomor urut dimaksudkan agar tidak tergantung dari kolom-kolom yang ada pada tabel jika suatu saat ada perubahan isi dari suatu tabel.


3.3. Perancangan Tabel
Berikut ini adalah tabel yang digunakan pada Sistem Informasi Pengajuan atk/barang. Jumlah tabel yang digunakan untuk sistem ini adalah lima jenis tabel.



3.4. Pembuatan Standar Operasional Prosedur (SOP) Pengajuan ATK/Barang

Contoh Formulir Pengajuan ATK/Barang Jurusan Administrasi Niaga
Politeknik Negeri Bandung


Tujuan:
Standard Operating Procedure ( SOP) diciptakan senantiasa untuk memberikan kepastian jaminan mutu dari Jurusan Administrasi Niaga Politeknik Negeri Bandung.

Pelaksanaan SOP :
Standard Operating Procedure ( SOP) dilaksanakan secara bertahap dan akan dibentuk Komisi Pengawas Pelaksanaan SOP dari Jurusan Administrasi Niaga yang berfungsi sebagai Quality Control Team.

Standar Operating Procedure (SOP)
Pengajuan/Permintaan ATK/Barang Habis Dari Dosen Ke Jurusan
Jurusan Administrasi Niaga
Politeknik Negeri Bandung

1. Setiap dosen yang meminta barang habis, harus mengisi buku administrasi pengeluaran barang yang ada di jurusan
2. Semua atk/barang-barang Jurusan harus diinventarisir dan dilakukan pengecekan setiap akhir tahun oleh Jurusan.
3. Semua bentuk pengajuan atk/barang melalui transaksi dengan format baku yang ditetapkan Jurusan Administrasi Niaga.
4. Atk/Barang yang tidak terpakai pada waktu permintaan Dosen untuk bahan pengajaran hendaknya dikembalikan ke Jurusan Administrasi Niaga.
5. Pengajuan Atk/Barang yang merupakan kebutuhan Dosen Pengajar harus sepengetahuan/izin penanggung jawab dari Jurusan Administrasi Niaga.
6. Secara berkala, jurusan menyampaikan persediaan barang habis yang ada di jurusan

BAB IV
P E N U T U P


Dari penulisan proposal yang telah dilakukan maka penulis dapat memberikan kesimpulan dan saran seperti yang dapat dilihat pada sub bab-sub bab berikut :

4.1. Kesimpulan

1. Sistem informasi manajemen terutama mengenai Standar Operasional Prosedur (SOP) pengajuan ATK/Barang di lembaga pendidikan sangat diperlukan untuk kemudahan informasi bagi dosen pengajar dan staf yang ada di Jurusan Administrasi Niaga dalam memudahkan proses belajar mengajar
2. Secara garis besar kegiatan pembuatan Sistem Informasi Manajemen mengenai Standar Operasional Prosedur (SOP) Pengajuan ATK/Barang dapat membantu dosen didalam melaksanakan tugas dan fungsinya untuk belajar mengajar.
3. Secara umum, bentuk dan macam atk/barang yang dibutuhkan oleh dosen pengajar dilihat berdasarkan hasil inventarisasi aset di Jurusan Administrasi Niaga khususnya kegiatan inventarisasi yang dilakukan oleh Urusan Inventaris.

4.2. Saran
1. Sistem informasi untuk pengajuan atk/barang yang ada di Jurusan Administrasi Niaga hendaknya dikembangkan melalui pengembangan sistem informasi berbasis komputer jaringan yang mendukung kegiatan sistem informasi tersebut terutama menyangkut Standar Operasional Prosedur (SOP) untuk mempermudah pengaksesan, penyampaian dan up date informasi dari Jurusan Administrasi Niaga ke Dosen pengajar dan staf yang lain yang ada Jurusan Administrasi Niaga.